![]() |
Nasib Artan tersandung kebijakan larangan perjalanan yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump. Somalia termasuk dalam daftar negara yang warganya menghadapi pembatasan masuk ke wilayah AS, sehingga Artan tidak dapat mengikuti rangkaian persiapan dan penugasan yang telah direncanakan.
Keputusan tersebut memicu kekecewaan di kalangan pecinta sepak bola Somalia. Sebab, penunjukan Artan sebelumnya dianggap sebagai tonggak penting bagi negara di Tanduk Afrika itu untuk tampil lebih menonjol di panggung olahraga internasional.
Meski gagal mewujudkan mimpinya kali ini, sambutan hangat menantinya saat kembali ke Somalia. Ratusan warga menyambut kedatangannya dengan meriah, menjadikan Artan simbol ketekunan dan harapan bagi generasi muda Somalia.
Di hadapan para pendukungnya, Artan menegaskan bahwa ia belum menyerah. Ia berjanji akan terus bekerja keras agar dapat memimpin pertandingan pada edisi Piala Dunia berikutnya.
“Ini bukan akhir dari perjalanan saya,” ujarnya. “Saya akan kembali berjuang dan berusaha menjadi bagian dari Piala Dunia berikutnya.”
Kisah Artan menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju panggung dunia tidak hanya ditentukan oleh prestasi olahraga, tetapi juga kerap dipengaruhi dinamika politik dan kebijakan internasional. Namun bagi banyak warga Somalia, kegagalan sementara itu justru memperkuat tekad seorang wasit yang telah membuka jalan bagi generasi berikutnya.
