-->

PMII Jatim Soroti Kenaikan BBM di Tengah Pelemahan Rupiah, Sebut Alarm Bahaya Ekonomi

BANGKALAN - PMII Jawa Timur Mengecam atas Kenaikan harga BBM di tengah melemahnya nilai tukar rupiah merupakan sinyal bahaya yang tidak boleh dianggap sebagai gejolak biasa. 

Situasi ini adalah alarm keras bagi pemerintah bahwa fondasi ekonomi nasional sedang menghadapi tekanan serius yang berpotensi langsung menghantam kehidupan masyarakat.

"Dalam beberapa hari terakhir, rupiah mengalami tekanan berat hingga Bank Indonesia harus melakukan kenaikan suku bunga secara tidak terjadwal untuk menjaga stabilitas nilai tukar," ujar Abd Holik, Bidang Kebijakan Publik PMII Jawa Timur.

Di saat yang sama, harga BBM non-subsidi mengalami lonjakan signifikan, bahkan mencapai lebih dari 30 persen untuk beberapa jenis bahan bakar.

"Kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan BBM bukan sekadar persoalan angka statistik. Ini adalah ancaman nyata terhadap daya beli rakyat," katanya.

Biaya transportasi akan meningkat, harga kebutuhan pokok berpotensi ikut terdorong naik, biaya produksi industri membengkak, dan tekanan inflasi semakin sulit dihindari. 

Efek domino tersebut pada akhirnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat kecil, buruh, petani, nelayan, pelaku UMKM, hingga kelas menengah yang selama ini menjadi penopang konsumsi nasional.

Pemerintah tidak boleh berlindung di balik narasi bahwa kenaikan BBM hanya menyasar kelompok tertentu. Fakta ekonomi menunjukkan bahwa setiap kenaikan biaya energi akan merembet ke hampir seluruh sektor kehidupan. Ketika ongkos distribusi naik, maka harga barang ikut naik. 

Ketika harga barang naik, maka daya beli turun. Ketika daya beli turun, maka pertumbuhan ekonomi terancam melambat.

Oleh karena itu, pemerintah harus menjadikan kondisi ini sebagai peringatan serius untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Ketergantungan pada solusi jangka pendek tidak akan menyelesaikan persoalan mendasar. 

"Yang dibutuhkan adalah penguatan sektor produksi nasional, percepatan industrialisasi berbasis sumber daya domestik, pengurangan ketergantungan impor energi, serta perlindungan nyata terhadap kelompok masyarakat rentan," tutur Holik.

Jika pemerintah gagal mengantisipasi dampak berantai dari pelemahan rupiah dan kenaikan BBM, maka yang akan terjadi bukan sekadar kenaikan harga, melainkan penurunan kualitas hidup masyarakat secara luas. Ketika harga naik, lapangan kerja tertekan, dan daya beli merosot, maka yang dipertaruhkan bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga stabilitas sosial.

"Ketika rupiah terpuruk dan BBM melonjak, yang dipertaruhkan bukan hanya angka-angka ekonomi, melainkan kemampuan rakyat untuk bertahan hidup," pungkasnya.

Komentar


Berita Terkini