![]() |
Limbah dari kawasan perumahan itu diduga mengalir melalui saluran drainase yang terhubung langsung dengan jaringan irigasi persawahan warga. Akibatnya, petani mengaku mengalami penurunan produktivitas lahan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Muallim, salah seorang warga, mengatakan air yang masuk ke area persawahan diduga telah tercampur limbah. Kondisi itu, menurut dia, berdampak pada pertumbuhan tanaman padi yang tidak normal hingga menyebabkan hasil panen menurun.
“Tanaman padi sulit tumbuh dan produksinya tidak seperti sebelumnya,” kata Muallim.
Keluhan warga sebenarnya bukan persoalan baru. Protes terkait pengelolaan limbah dan fasilitas perumahan disebut telah berulang kali disampaikan kepada pihak terkait. Bahkan, penghuni perumahan sendiri pernah menyuarakan keberatan atas persoalan tersebut.
Pada 2025, pemerintah daerah melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembuangan limbah setelah muncul kekhawatiran bahwa aliran limbah dapat mengganggu produktivitas pertanian warga. Langkah itu dilakukan di tengah upaya pemerintah mendorong swasembada pangan dan menjaga kualitas lingkungan.
Saat peninjauan berlangsung, pihak pengembang disebut berkomitmen membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebagai solusi atas persoalan yang dikeluhkan warga.
Namun, menurut Muallim, keberadaan IPAL tersebut belum memberikan dampak nyata.
“Mereka sudah buat, tapi IPAL-nya tidak berfungsi,” ujarnya, dikutip dari Global Terkini, Minggu, 7 Juni 2026.
![]() |
Warga kini mendesak pemerintah daerah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap sistem pengelolaan limbah Perumahan Dirz Residence, termasuk mengevaluasi fungsi IPAL yang telah dibangun. Mereka juga meminta adanya langkah tegas apabila ditemukan pelanggaran yang berdampak terhadap lingkungan dan aktivitas pertanian masyarakat.
Hingga berita ini ditulis, pihak Dirz Residence belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi yang dilakukan melalui pesan singkat maupun panggilan telepon belum memperoleh respons dari pihak pengembang.

