![]() |
Sekitar pukul 14.00 WIB, massa mulai bergerak berjalan kaki menuju Bundaran HI. Berdasarkan pantauan di lapangan, rombongan mahasiswa telah memasuki ruas Jalan Sudirman pada pukul 14.32 WIB setelah sebelumnya sempat tertahan di sekitar Jembatan Semanggi.
Aksi saling adu argumentasi antara mahasiswa dan aparat tak terhindarkan ketika polisi berusaha menghentikan laju massa. Sejumlah video yang beredar menunjukkan pengunjuk rasa bertahan pada rencana awal mereka untuk berkumpul di Bundaran HI.
Bagi mahasiswa, lokasi aksi bukan sekadar soal titik kumpul. Mereka menilai Bundaran HI memiliki makna simbolik untuk menyampaikan pesan langsung kepada masyarakat luas.
“DPR tidak menjalankan fungsinya,” kata salah seorang peserta aksi saat diwawancarai wartawan di lokasi. Karena alasan itu, massa menolak diarahkan ke kompleks parlemen maupun kawasan Istana Merdeka.
Ketua BEM Universitas Indonesia, Yatalathof Ma’shum Imawan, mengatakan demonstrasi di Bundaran HI bertujuan menunjukkan kepada publik bahwa kondisi sosial-ekonomi masyarakat sedang tidak baik-baik saja.
“Ya, sudah kita menggelar di Bundaran HI untuk menyadarkan rakyat bahwa kondisi kita tidak baik-baik saja,” ujar Yatalathof.
Di sisi lain, kepolisian menilai Bundaran HI bukan lokasi yang tepat untuk penyampaian aspirasi. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyebut kawasan tersebut merupakan pusat aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.
“Seputaran Bundaran HI itu bukan merupakan tempat yang untuk menyampaikan aspirasi,” kata Budi.
Menurut dia, berbagai kegiatan ekonomi dan aktivitas warga berlangsung di kawasan tersebut sehingga perlu dijaga agar tidak terganggu. Karena itu, polisi mengarahkan massa ke lokasi lain yang dinilai lebih sesuai untuk demonstrasi.
Meski demikian, hingga sore hari mahasiswa tetap melanjutkan langkah menuju Bundaran HI. Sikap itu menegaskan tekad mereka untuk membawa isu penolakan kenaikan harga BBM ke ruang publik yang lebih luas, di tengah upaya aparat membatasi lokasi aksi.
