![]() |
| Ilustrasi |
Praktik pelangsiran tidak hanya diduga menggunakan jeriken, tetapi juga memanfaatkan truk yang diduga telah diganti tangki ukuran jumbo untuk menampung solar dalam jumlah lebih besar guna menghindari kecurigaan aparat maupun pengawas.
Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, aktivitas tersebut terjadi hampir setiap hari. Menurut dia, sejumlah truk yang seharusnya menggunakan tangki berkapasitas sekitar 100 liter telah dimodifikasi menjadi 200 liter. Bahkan, ada kendaraan yang menggunakan tangki ganda di sisi kiri dan kanan.
“Setelah mengisi solar lalu keluar dari SPBU, kendaraan itu kembali masuk dan mengantre lagi. Akibatnya, kendaraan umum kadang tidak kebagian solar,” ujar warga tersebut, Sabtu (30/5/2026).
Ia juga menyoroti dugaan praktik pengisian berulang pada kendaraan yang sama dalam satu hari. Kondisi itu, kata dia, membuat distribusi solar subsidi tidak tepat sasaran.
Tak hanya itu, warga menilai pengisian menggunakan jeriken di SPBU tersebut terkesan lebih diprioritaskan dibandingkan kendaraan yang menjadi pengguna langsung BBM subsidi.
“Sepuluh jeriken terisi dulu, baru kendaraan dilayani,” katanya.
Menurut warga, aktivitas pelangsiran sebenarnya mudah dikenali. “Cukup duduk di depan SPBU, sudah bisa dilihat mana pengguna langsung dan mana yang diduga pelangsir solar,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola SPBU Cabalu maupun instansi terkait mengenai dugaan praktik tersebut.
(Rustan)
