![]() |
Alih-alih menemukan praktik ngelem, patroli justru mendapati sekelompok remaja tengah menenggak minuman tradisional jenis tuak (ballo) di pinggir jalan, tepatnya di Lingkungan Pao-Pao. Temuan ini menguatkan kekhawatiran warga tentang meningkatnya aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Petugas memilih pendekatan persuasif. Para remaja yang terjaring tidak langsung ditindak, melainkan diberi pembinaan di tempat. Langkah ini, menurut aparat, menjadi bagian dari strategi pencegahan sebelum perilaku menyimpang berkembang lebih jauh.
Lurah Panyula, Taqwa Alam Rasul, mengatakan patroli tersebut melibatkan lintas unsur, mulai dari pejabat bidang peraturan daerah hingga personel BKO Satpol PP kecamatan. “Ini tindak lanjut laporan masyarakat. Kami akan intensifkan patroli rutin,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Ia menekankan, pengawasan tidak bisa hanya mengandalkan aparat. Peran orang tua dan masyarakat dinilai krusial untuk menutup ruang bagi kenakalan remaja. Pemerintah kelurahan, kata dia, akan memetakan titik rawan dan meningkatkan pengawasan di wilayah-wilayah tersebut.
Di Panyula, patroli kini bukan sekadar respons sesaat melainkan sinyal bahwa ruang publik sedang diawasi lebih ketat.
