![]() |
Peristiwa itu terjadi di Markas Komando (Mako) Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel, saat berlangsung prosesi penyerahan bantuan program bedah rumah kepada warga kurang mampu.
Awalnya, acara berjalan khidmat seperti seremoni pada umumnya. Namun suasana berubah menjadi haru ketika Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, menunjukkan gestur yang tak biasa.
Usai menyerahkan kunci rumah secara simbolis kepada seorang nenek penerima bantuan, jenderal bintang dua tersebut tidak sekadar memberikan bantuan. Ia justru membungkukkan badan dan mencium tangan sang nenek sebagai bentuk penghormatan.
![]() |
Di hadapan para personel dan tamu undangan, gestur tersebut seakan berbicara lebih lantang dari kata-kata.
Tindakan Kapolda Sulsel itu mencerminkan nilai luhur budaya Bugis, yakni sipakatau, sipakalebbi, sipakainge, yang berarti saling memanusiakan, saling menghormati, dan saling mengingatkan. Nilai-nilai tersebut tampak nyata dalam sikap dan tindakan, bukan sekadar slogan.
Momen ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu ditunjukkan melalui kebijakan besar, melainkan dari ketulusan dan empati yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Lebih jauh, peristiwa ini mempertegas peran Polri bukan hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai pelindung dan pengayom masyarakat yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Diketahui, program bedah rumah tersebut diberikan kepada keluarga Kakek Fence, yang sehari-hari bekerja sebagai pengumpul plastik dan botol bekas. Sebelumnya, keluarga itu tinggal di rumah yang tidak layak huni di lorong sempit wilayah Kelurahan Majang, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone.
Proses pembangunan rumah dilakukan selama kurang lebih 19 hari, dengan melibatkan personel Batalyon C Pelopor Satbrimob Polda Sulsel secara gotong royong sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap masyarakat.
Momen tersebut menjadi potret kepemimpinan yang membumi—dekat dengan rakyat, penuh empati, dan sarat keteladanan. (*)

