![]() |
Upacara dihadiri unsur Forkopimda, termasuk Danrem 141 Toddoppuli, pimpinan organisasi perangkat daerah, camat, hingga para kepala sekolah lintas jenjang. Namun, sorotan utama tertuju pada pesan Bupati: pendidikan tak boleh lagi terhambat biaya.
“Tidak boleh ada anak di Bone yang tinggal di rumah tanpa sekolah hanya karena alasan ekonomi,” kata Andi Asman dalam amanatnya.
Ia menempatkan Hardiknas bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi atas capaian dan tantangan pendidikan. Dalam pidatonya, ia mengutip gagasan Ki Hajar Dewantara tentang sistem among asah, asih, asuh yang menurutnya masih relevan sebagai fondasi pembelajaran.
Bagi Andi Asman, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses “memanusiakan manusia” yang harus dijalankan dengan ketulusan dan empati. Pernyataan itu sekaligus menjadi kritik halus terhadap praktik pendidikan yang kerap terlalu berorientasi pada hasil semata.
Di sisi kebijakan, Pemerintah Kabupaten Bone menyiapkan sejumlah langkah konkret. Selain memperluas akses pendidikan, pemda mendorong pengembangan sekolah berasrama (boarding school) dan memperkuat sekolah unggulan di tiap kecamatan.
Ia juga menekankan pentingnya kurikulum adaptif yang mampu menjawab tantangan zaman. “Kita perlu belajar dari sekolah-sekolah unggulan di berbagai daerah agar kualitas pendidikan Bone bisa bersaing,” ujarnya.
Langkah ini, menurutnya, harus diikuti dengan rekomendasi kebijakan yang lebih terarah agar pengembangan sekolah tidak berjalan sporadis.
Peringatan Hardiknas 2026 di Bone pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar upacara. Ia menjadi penegasan komitmen pemerintah daerah untuk membangun sistem pendidikan yang inklusif yang tidak hanya merata, tetapi juga mampu melahirkan daya saing.
