![]() |
Nama Erwin Gutawa lebih dulu menyedot perhatian publik. Eks pemain PSM Makassar yang kini memperkuat PSMS Medan itu turun membela Kecamatan Tonra dan langsung disambut sorakan penonton sejak memasuki lapangan.
Pemain asal Tonra, Bone, tersebut dikenal memiliki karakter permainan keras, agresif, dan lugas di lini pertahanan. Gaya bermainnya bahkan membuat sebagian penggemar menjulukinya sebagai “Sergio Ramos Indonesia”.
Namun perhatian publik tak hanya tertuju pada Erwin. Kecamatan Kahu datang dengan warna berbeda lewat kehadiran tiga pemain asing asal Afrika, yakni Sackie Teah Doe, gelandang asal Liberia, Henry Gowene Baysah yang mengisi posisi bek dan juga berasal dari Liberia, serta penyerang asal Nigeria, Silas Abednego Uzondu.
Kehadiran para pemain itu membuat Stadion Lapatau dipadati penonton sejak sore hari. Tribun timur dan barat tampak sesak. Bahkan, sebagian warga terpaksa menyaksikan pertandingan dari luar pagar stadion karena kehabisan tempat duduk.
“Saya cepat-cepat datang ambil tempat duduk karena penasaran lihat pemain Afrika itu. Kalau Erwin Gutawa sudah biasa kita lihat di TV maupun media sosial,” ujar seorang penonton.
Antusiasme masyarakat turut berdampak pada tingginya penjualan karcis yang dibanderol Rp10 ribu per orang. Dengan kapasitas stadion sekitar 15 ribu penonton, laga tersebut dinilai memberi efek ekonomi tersendiri bagi daerah.
Salah seorang pecinta sepak bola Bone, Idham, mengapresiasi langkah Kecamatan Kahu mendatangkan pemain asing karena dinilai mampu meningkatkan gairah masyarakat datang ke stadion.
“Ini bagus untuk sepak bola daerah karena masyarakat jadi antusias datang menonton. Mudah-mudahan juga berdampak positif terhadap pendapatan daerah,” katanya.
Di atas lapangan, Kecamatan Tonra tampil superior. Tim yang dikawal Erwin Gutawa itu sukses membungkam Kecamatan Kahu dengan skor telak 4-0 sekaligus memastikan langkah ke babak berikutnya pada Bone Beramal Cup 2026.
