![]() |
Acara tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Bangkalan Fauzan Jakfar, Sekretaris Daerah Ismet Efendi, Kepala Dinas Pendidikan Musleh, serta Kepala Dispusip Ainul Gufron. Sedikitnya 80 lembaga ambil bagian, dengan total sekitar 150 peserta yang terdiri dari kepala sekolah dan pengelola perpustakaan desa, SD, hingga SMP.
Kepala Dispusip Bangkalan, Ainul Gufron, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk mendorong sekolah memenuhi standar nasional perpustakaan melalui proses akreditasi. Menurutnya, perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar tempat penyimpanan buku, melainkan pusat pembelajaran yang mampu membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas.
“Perpustakaan yang terstandarisasi akan memberikan jaminan mutu, baik dari sisi koleksi, layanan, tenaga pustakawan, hingga sarana prasarana,” ujarnya.
Namun, upaya tersebut masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Kepala Bidang P3KM, Christine Sri Hayati, mengungkapkan bahwa banyak sekolah, khususnya tingkat SD, belum memiliki ruang perpustakaan yang memadai. Sebagian besar hanya mengandalkan pojok baca dengan keterbatasan fasilitas.
Selain itu, kekurangan tenaga pustakawan menjadi persoalan krusial. Di banyak sekolah, peran pengelola perpustakaan masih dirangkap oleh guru mata pelajaran, sehingga pengelolaan belum optimal.
“Ke depan, kami berharap dapat bekerja sama dengan balai diklat untuk menggelar bimbingan teknis bagi tenaga pustakawan,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, Dispusip Bangkalan berharap dapat mempercepat peningkatan kualitas perpustakaan sekolah sekaligus menumbuhkan budaya literasi yang lebih kuat di kalangan pelajar.
