-->

Puting Beliung Terjang Bone, Puluhan Rumah Rusak: Harapan Warga Luluh dalam Sekejap

Bone - Sore itu, langit di Desa Mico, Kecamatan Palakka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, berubah muram. Sekitar pukul 15.00 WIB, Rabu (18/3/2026), angin puting beliung datang tanpa aba-aba, menyapu permukiman warga dan meninggalkan jejak kehancuran dalam hitungan menit.

Awalnya, suasana desa berjalan seperti biasa. Aktivitas warga berlangsung tenang di bawah langit yang perlahan menggelap. Namun, ketenangan itu mendadak pecah saat angin berputar kencang, disertai suara gemuruh yang menyesakkan. Atap rumah beterbangan, dinding runtuh, dan pepohonan bergoyang liar, seolah tak mampu menahan amukan alam.

Sekitar 20 rumah dilaporkan terdampak. Sebagian mengalami kerusakan berat, bahkan beberapa di antaranya rata dengan tanah. Barang-barang milik warga tersapu, menyisakan puing dan kenangan yang tak mudah digantikan.

Kare, salah seorang warga, masih mengingat jelas detik-detik ketika bencana itu terjadi. Dengan suara tertahan, ia menggambarkan kekuatan angin yang meluluhlantakkan kampungnya.

“Kurang lebih 20 rumah terdampak, bahkan sebagian mengalami kerusakan berat. Ada yang atapnya terbang, bahkan ada yang rata dengan tanah,” ujarnya.

Yang menambah pilu, beberapa rumah yang rusak merupakan bangunan yang baru saja berdiri. Harapan yang belum lama dirajut, seketika runtuh diterpa angin. Warga hanya bisa terdiam, menatap sisa-sisa rumah mereka dengan mata berkaca.

Saat malam turun, sebagian warga memilih mengungsi ke rumah kerabat. Sebagian lainnya bertahan dengan kondisi seadanya di tengah keterbatasan. Rasa takut masih menyelimuti, sementara kelelahan dan kehilangan menjadi beban yang harus mereka tanggung.

Kini, warga Desa Mico mencoba bertahan dari sisa yang ada. Mereka berharap bantuan segera datang, baik dari pemerintah maupun para dermawan, untuk memulihkan kehidupan yang porak-poranda.

“Semoga ada bantuan yang segera datang, karena sebagian warga sudah tidak memiliki tempat tinggal. Kami hanya ingin bisa bangkit dan kembali hidup seperti semula,” tutur seorang warga lainnya.

Di tengah puing-puing yang tersisa, harapan itu masih ada meski tipis, namun tetap bertahan.

Komentar


Berita Terkini