-->

Cabai Ludes Pagi-Pagi, Pasar Murah Bangkalan Sisakan Tanda Tanya

Foto: Suasana gerakan pasar murah yang digelar Pemkab Bangkalan dipadati pengunjung sejak pagi.

BANGKALAN - Program gerakan pasar murah yang digelar Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Jumat (27/2/2026), berujung kekecewaan. Harapan warga mendapatkan bahan dapur dengan harga miring pupus setelah stok cabai rawit dan cabai merah dilaporkan habis saat matahari belum tinggi.

Sejak pagi, halaman lokasi kegiatan sudah dipadati warga. Namun sekitar pukul 09.00 WIB, komoditas yang paling diburu justru tak lagi tersedia. Cabai rawit dan cabai merah dua bahan yang tengah melonjak harganya di pasaran lenyap dari meja penjualan.

Risma, salah satu pengunjung, mengaku heran. Ia datang lebih awal demi mendapatkan cabai murah, tetapi pulang dengan tangan kosong.

“Kami dengar ada pasar murah tentu senang, karena kebutuhan dapur sekarang berat. Tapi kenapa masih pagi sudah habis? Stoknya terbatas atau memang yang beli membludak?” ujarnya.

Pertanyaan itu muncul bukan tanpa sebab. Sebelumnya, Sekretaris Daerah Kabupaten Bangkalan mengimbau seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan aparatur sipil negara (ASN) untuk hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Sejumlah warga menduga ramainya peserta dari kalangan internal pemerintahan ikut mempercepat ludesnya stok.

Padahal, di tengah harga cabai yang di pasar tradisional disebut-sebut menembus Rp100 ribu per kilogram, komoditas ini menjadi incaran utama. Dalam pasar murah itu, cabai rawit dijual Rp5.000 per setengah ons, sedangkan cabai merah Rp5.000 per seperempat kilogram jauh di bawah harga pasar.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskopumdag) Kabupaten Bangkalan, Moh. Rasuli, tak menampik stok yang disediakan memang terbatas. “Cabai rawit hanya 10 kilogram dan cabai merah 15 kilogram. Harga kami memang lebih murah dari pasar,” katanya.

Menurut Rasuli, lonjakan harga membuat antusiasme warga tinggi. Selain Diskopumdag, Dinas Pertanian juga membawa sebagian stok cabai. “Masyarakat yang mendengar ada pasar murah langsung menyerbu, sementara stok kami tidak banyak,” ujarnya.

Selain cabai, pasar murah itu menyediakan beras, gula, telur, minyak goreng, ayam potong, bawang merah, dan bawang putih. Namun bagi sebagian warga, absennya cabai bumbu utama dapur Madura membuat program tersebut terasa setengah hati.

Di tengah keramaian yang sempat membuncah, pasar murah yang diniatkan meringankan beban justru menyisakan pertanyaan: seberapa siap pemerintah daerah mengantisipasi lonjakan kebutuhan saat harga pangan merangkak naik?

Komentar


Berita Terkini