![]() |
| Keterangan foto: Suasana gerakan pasar murah di depan Pendopo Agung Bangkalan pada awal Ramadan tampak relatif sepi. |
BANGKALAN - Gerakan Pasar Murah yang digelar Pemerintah Kabupaten Bangkalan di depan Pendopo Agung, Jumat (20/2/2026), menyisakan tanda tanya. Di tengah lonjakan harga cabai rawit, komoditas itu justru absen dari lapak pasar murah.
Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah kebutuhan pokok memang tersedia: beras, minyak goreng, daging ayam, hingga daging sapi. Namun cabai rawit, cabai merah, dan tomat bahan dapur yang kerap memicu inflasi saat Ramadan tidak terlihat di meja distribusi. Suasana pun relatif lengang.
Kegiatan yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Bangkalan itu dikoordinasikan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Bangkalan. Selain distributor, dinas tersebut juga ikut membuka lapak penjualan.
Rosadi, salah seorang pengunjung, mengaku kecewa. Menurut dia, pasar murah seharusnya menjawab kebutuhan paling mendesak masyarakat.
“Cabai ini kebutuhan dapur. Kalau harganya melambung tapi di pasar murah tidak ada, kesannya setengah-setengah,” ujarnya.
Gerakan pasar murah dijadwalkan berlangsung lima kali menjelang dan selama Ramadan. Program ini ditujukan untuk menekan gejolak harga bahan pokok yang lazim terjadi saat hari besar keagamaan. Namun tanpa komoditas strategis seperti cabai, efektivitasnya dipertanyakan.
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setdakab Bangkalan, Qory Yuniastuti, mengatakan pihaknya telah bersurat kepada distributor agar berpartisipasi. Ia menyebut terdapat tujuh distributor yang dilibatkan, meski koordinasi tidak selalu mudah.
“Ke depan akan kami evaluasi. Kami berharap kebutuhan pokok dan dapur bisa lebih lengkap,” kata Qory. Ia menambahkan, pada pelaksanaan perdana sebelumnya, komoditas relatif lebih lengkap.
Adapun Kepala Bidang Bina Usaha Dinas Peternakan Kabupaten Bangkalan, Eti Nandari, menyatakan komoditas seperti cabai berada di bawah kewenangan dinas lain.
“Kalau kami Dinas Peternakan, fokusnya daging dan olahannya,” ujarnya singkat.
Tanpa cabai di tengah harga yang menanjak, pasar murah yang diharapkan menjadi bantalan justru tampak kehilangan daya tariknya.
