![]() |
BANGKALAN – Program pasar murah inisiatif Bupati Lukman Hakim kembali menjadi sorotan. Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bangkalan mengingatkan agar pelaksanaannya tidak sekadar formalitas dan terbebas dari praktik monopoli maupun rekayasa pembeli.
Aktivis HMI Cabang Bangkalan, Bahrullah, menilai program yang digelar pekan lalu itu justru ramai diperbincangkan karena minim peminat. Padahal, di tengah melonjaknya harga sejumlah bahan pangan, pasar murah seharusnya menjadi solusi yang ditunggu masyarakat.
“Programnya bagus. Namun jika hanya dilaksanakan seadanya tanpa sosialisasi yang maksimal serta tanpa memastikan ketersediaan bahan pokok yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, hasilnya akan percuma,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, pasar murah harus menghadirkan bahan pangan dengan harga yang signifikan lebih rendah dari harga pasar. Selisih harga yang terlalu tipis dinilai tidak cukup menarik minat warga, khususnya masyarakat di luar Kecamatan Kota Bangkalan.
“Kalau hanya selisih seribu atau dua ribu rupiah, tentu sulit menarik minat masyarakat. Harus ada perbedaan harga yang benar-benar terasa,” tegasnya.
Lebih lanjut, pihaknya juga mengingatkan agar tidak terjadi praktik monopoli atau pengerahan pihak-pihak tertentu demi meramaikan kegiatan. Ia menegaskan, jangan sampai pasar murah justru didominasi aparatur sipil negara (ASN) atau kerabat internal pemerintah daerah.
“Program ini harus benar-benar dimanfaatkan masyarakat luas. Jangan sampai program pemerintah daerah malah dinikmati pegawai pemkab sendiri,” pungkasnya.
