![]() |
| Ketua Menyusuri Jejak Budaya (MJB), Riswan Rusandy |
Bone, Kabarpojok - Mangkraknya pembangunan situs budaya Bola Soba kian menjadi tamparan keras bagi komitmen Pemerintah Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dalam menjaga warisan sejarah daerah. Proyek yang digarap oleh CV Megah Jaya dengan anggaran fantastis mencapai Rp 10,7 miliar itu hingga kini belum juga menunjukkan tanda-tanda penyelesaian, meski telah berjalan cukup lama.
Kondisi tersebut dinilai mencerminkan lemahnya keseriusan pemerintah daerah dalam mengelola dan melestarikan situs budaya yang memiliki nilai historis tinggi bagi masyarakat Bone. Bola Soba, yang seharusnya menjadi ikon kebanggaan daerah, justru terbiarkan terbengkalai tanpa kejelasan.
Tak hanya itu, mandeknya proyek bernilai miliaran rupiah ini juga memunculkan tanda tanya besar terkait peran Aparat Penegak Hukum (APH). Hingga saat ini, publik belum melihat adanya langkah tegas maupun proses hukum yang transparan atas mangkraknya pembangunan yang menggunakan dana negara tersebut.
Ketua Menyusuri Jejak Budaya (MJB), Riswan Rusandy, melontarkan kritik keras terhadap situasi ini. Menurutnya, Bola Soba bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan simbol identitas dan marwah sejarah masyarakat Bone yang seharusnya dijaga dengan penuh tanggung jawab.
“Mangkraknya pembangunan Bola Soba adalah bentuk pembiaran yang sangat serius. Pemerintah seolah tidak menjadikan pelestarian budaya sebagai prioritas, padahal anggaran yang dikucurkan sangat besar. Ini bukan semata soal bangunan, tetapi soal marwah sejarah dan identitas budaya masyarakat Bone,” tegas Riswan.
Riswan juga menyoroti sikap APH yang dinilainya terkesan pasif dalam mengawal proyek tersebut.
“Jika proyek senilai Rp 10,7 miliar bisa mangkrak tanpa kejelasan, maka wajar publik mempertanyakan fungsi pengawasan dan penegakan hukum. APH seharusnya hadir untuk memastikan tidak ada penyimpangan serta potensi kerugian negara,” tambahnya.
MJB mendesak pemerintah daerah, kontraktor pelaksana, serta APH untuk segera memberikan penjelasan terbuka dan bertanggung jawab kepada publik, sekaligus mengambil langkah konkret agar pembangunan Bola Soba tidak terus menjadi monumen kegagalan pengelolaan anggaran dan pelestarian budaya. Transparansi dan akuntabilitas dinilai menjadi kunci utama untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap komitmen pemerintah dalam menjaga warisan kebudayaan daerah. (*)
