-->

Pelayanan Publik Terjun Bebas, Demo HMI di Pemkab Bangkalan Berujung Ricuh

Keterangan foto: Massa aksi saling dorong dengan aparat kepolisian di depan Pemkab Bangkalan

Bangkalan, Kabarpojok - Anjloknya kinerja pelayanan publik di Kabupaten Bangkalan memicu gelombang protes. Ratusan mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bangkalan menggelar aksi demonstrasi di Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan, Jawa Timur, Senin (19/01/2026). Aksi tersebut berakhir ricuh setelah mahasiswa terlibat bentrok dengan aparat kepolisian.

Demonstrasi diawali dengan orasi dan aksi bakar ban di perempatan lampu merah STKIP Bangkalan. Massa kemudian bergerak menuju Kantor Pemkab Bangkalan dengan tuntutan utama menemui Bupati Bangkalan, Lukman Hakim, untuk meminta pertanggungjawaban atas merosotnya kualitas pelayanan publik.

Pada awalnya, aksi berlangsung tertib meski mahasiswa harus berpanas-panasan menunggu. Namun, kekecewaan memuncak lantaran Bupati Lukman Hakim tak kunjung menemui massa, meski disebut berada di dalam kantor. Mahasiswa pun berupaya “menjemput” kepala daerah tersebut secara paksa.

Upaya itu dihadang aparat kepolisian. Adu dorong tak terelakkan hingga situasi berubah chaos. Polisi akhirnya menyemprotkan water canon ke arah massa aksi, yang turut mengenai sejumlah wartawan yang sedang meliput di lokasi.

Setelah kericuhan terjadi, Bupati Lukman Hakim akhirnya menemui mahasiswa. Namun, suasana telanjur panas. Massa memilih mundur dari halaman Pemkab dan melanjutkan orasi di pinggir jalan, dengan Bupati mengikuti dan mendengarkan tuntutan mereka dari lokasi tersebut.

Dari atas mobil komando, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Isro’ Mi’roj, dengan lantang mendesak Bupati segera keluar menemui massa.

“Kami beri waktu 10 menit. Jika Bupati tidak keluar, kami terpaksa menjemput paksa dari meja kerjanya,” teriak Isro’, Senin (19/01/2026).

Ia menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan terhadap buruknya pelayanan publik di Bangkalan. Isro’ juga mengungkapkan adanya korban dari pihak mahasiswa.

“Ada kader kami yang mengalami luka ringan akibat saling dorong. Alat peraga aksi berupa sound system juga rusak terkena semprotan water canon Polres Bangkalan,” ujarnya.

HMI mendesak aparat dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas insiden tersebut, serta menuntut evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan daerah.

Isro’ menyoroti turunnya peringkat Pemantauan dan Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pelayanan Publik (PEKPPP) 2025 yang dirilis Kementerian PAN-RB melalui Kepmen Nomor 3 Tahun 2026. Kabupaten Bangkalan anjlok drastis dari peringkat 105 ke 190 secara nasional.

“Ini bukti nyata kegagalan kepemimpinan Bupati Lukman Hakim. Penurunan peringkat ini menunjukkan pelayanan publik di Bangkalan semakin memburuk,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Bangkalan Lukman Hakim menyampaikan permohonan maaf atas insiden bentrokan antara mahasiswa dan aparat kepolisian.

“Tidak ada unsur kesengajaan kami membiarkan mahasiswa menunggu lama. Sejak pagi kami menunggu massa, namun karena belum datang, kami masih menerima dua tamu lain,” jelasnya.

Menanggapi isu adanya kesengajaan membenturkan mahasiswa dengan aparat, Lukman membantah keras tudingan tersebut.

“Itu tidak benar dan tidak bertanggung jawab. Mahasiswa adalah bagian dari kami. Justru kami berterima kasih karena telah menjadi kontrol agar birokrasi Bangkalan bisa lebih baik,” pungkasnya.

Komentar


Berita Terkini