![]() |
Kehadiran Presiden Prabowo turut didampingi sejumlah menteri dan pejabat tinggi Kabinet Merah Putih. Di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, serta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.
Selain itu, hadir pula Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, serta Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa Nahdlatul Ulama akan segera menggelar Muktamar ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026. Lokasi pelaksanaan muktamar, kata dia, masih dalam tahap finalisasi.
“Kami semua adalah rakyat yang setia kepada negara, siap berjuang dan berkorban demi bangsa serta NKRI tercinta,” ujar Yahya.
Sementara itu, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menegaskan komitmen NU untuk terus mendukung pemerintah selama tetap berjalan dalam koridor nilai-nilai agama dan kemaslahatan umat.
“Selama pemerintah tidak mengajak kepada kekufuran dan kefasikan, Nahdlatul Ulama akan selalu mendukung pemerintah. Selalu ada solusi dari setiap persoalan yang dihadapi,” katanya.
Menurut Miftachul Akhyar, Presiden Prabowo merupakan sosok pemimpin yang senantiasa memikirkan kepentingan rakyat.
“Semoga Allah memudahkan segala ikhtiar beliau untuk bangsa dan negara,” tuturnya.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyebut banyaknya kader NU yang kini mengisi posisi strategis di pemerintahan. Ia bahkan berkelakar bahwa Kabinet Merah Putih terasa didominasi oleh warga NU.
“Rasanya kita harus belajar politik dari NU,” kata Prabowo yang disambut tepuk tangan peserta.
Prabowo juga mengaku memiliki kedekatan emosional dengan lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia menyebut rumah keluarganya di Jakarta berada tidak jauh dari kediaman keluarga Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
“Saya selalu merasa nyaman dan aman berada di tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama,” ujarnya.
Presiden turut menyinggung lagu-lagu perjuangan NU yang menurutnya sarat dengan semangat kebangsaan dan patriotisme, bahkan telah lahir sebelum Indonesia merdeka.
“Lagu-lagu NU sudah mengandung semangat kebangsaan yang luar biasa. Saat dinyanyikan dengan tangan mengepal di depan, saya katakan, sebelum ada Kopassus, NU sudah lebih dulu punya semangat Kopassus,” ucapnya.
Prabowo juga menyampaikan apresiasi atas peran NU yang dinilainya selalu hadir dalam berbagai fase penting perjalanan bangsa, termasuk ketika Indonesia menghadapi berbagai tantangan.
“Terima kasih atas dukungan NU yang selalu tampil saat bangsa ini menghadapi masa-masa sulit,” katanya.
Menutup sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa para kiai dan ulama merupakan tokoh yang paling dekat dengan masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Karena itu, mereka dinilai memahami secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi rakyat.
“Para kiai dan ulama merasakan apa yang dirasakan rakyat. Ada perkembangan yang alamiah, karena tentara, pejuang, dan polisi pada dasarnya berasal dari rakyat,” pungkasnya.
