![]() |
JAKARTA – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, mempertimbangkan pemanfaatan kantin sekolah sebagai alternatif pengganti dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menurut Nanik, skema tersebut dapat diterapkan terutama di wilayah terpencil yang memiliki jumlah siswa relatif sedikit sehingga pembangunan dapur MBG dinilai kurang efektif.
Namun, gagasan memberdayakan kantin sekolah untuk mendukung pelaksanaan MBG menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Persoalan utama berkaitan dengan kesiapan infrastruktur, kelayakan bangunan, hingga tata kelola kantin yang belum merata di berbagai daerah.
Kondisi itu terlihat di sejumlah sekolah di wilayah 3T. Salah satunya di Sekolah Dasar (SD) Inpres Natarita, Desa Darat Gunung, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kantin sekolah tersebut hingga kini belum dapat difungsikan karena mengalami kerusakan akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Atap dan sebagian bangunan kantin rusak sehingga aktivitas di dalamnya terhenti. Hingga saat ini, fasilitas tersebut belum dibangun kembali.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan kantin sekolah sebagai penopang Program MBG memerlukan kesiapan sarana yang memadai. Tanpa dukungan infrastruktur yang layak, terutama di wilayah yang terdampak bencana dan memiliki keterbatasan akses, pelaksanaan program berpotensi menghadapi hambatan.
Di tengah upaya pemerintah memperluas jangkauan MBG hingga ke pelosok negeri, kondisi kantin sekolah di daerah 3T menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Sebab, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan anggaran dan bahan pangan, tetapi juga oleh kesiapan fasilitas yang menjadi ujung tombak pelayanan bagi para siswa.
